GARASI MEDIA – Pemasangan latihan perang Iran di tengah bayang-bayang ancaman serangan Amerika Serikat menunjukkan meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Baru-baru ini Tehran mengeluarkan Notice to Airmen (NOTAM) yang memperingatkan perubahan rute dan potensi bahaya di ruang udara dekat Selat Hormuz akibat latihan militer tembak nyata (live-fire drills) yang berlangsung dari 27 hingga 29 Januari. Selat ini merupakan jalur maritim vital yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak global, sehingga setiap aktivitas militer di sekitarnya menjadi fokus perhatian dunia.
Latihan ini mencakup aktivitas militer di udara dan laut dalam radius sekitar lima mil laut dari selat yang strategis tersebut, serta membatasi ruang udara dari permukaan hingga 25.000 kaki selama periode latihan. Pembatasan ini berdampak pada navigasi pesawat sipil maupun militer dan mencerminkan kesiapan Iran menghadapi ancaman eksternal. Aktivitas militer Iran tersebut terjadi bertepatan dengan latihan terpisah yang digelar oleh US Air Forces Central Command (AFCENT) di wilayah tanggung jawab Komando Pusat AS (US Central Command).
Latihan AS ini bertujuan menunjukkan kemampuan pengerahan cepat dan kesiapan tempur di kawasan yang sama, langkah yang dilihat sebagai respon terhadap dinamika keamanan di Teluk Persia. Ketegangan ini mencerminkan kekhawatiran Tehran terhadap kemungkinan konfrontasi dengan Washington. Beberapa pejabat Iran telah memberi pernyataan bahwa mereka siap merespons jika terjadi serangan AS, bahkan menegaskan akan menganggap setiap serangan sebagai perang total yang memaksa mereka bereaksi dengan keras.
Pernyataan semacam ini menunjukkan bahwa retorika politik dan militer kedua belah pihak kian intens, meski keduanya belum terlibat dalam konflik langsung saat ini. Isu Selat Hormuz sendiri memiliki sejarah panjang sebagai titik panas geopolitik. Karena perannya sebagai jalur utama ekspor minyak, negara besar dan kekuatan regional sering memperhatikan dan bereaksi atas perubahan situasi keamanan di sekitar kawasan ini. Aktivitas militer yang intens dapat memicu kenaikan harga minyak dunia serta meningkatkan kekhawatiran investor terhadap stabilitas pasar energi global.
Sementara itu, latihan Iran juga dapat dipahami sebagai pesan strategis kepada Washington dan negara lain agar menghormati kedaulatan dan kepentingan nasionalnya. Dengan menunjukkan kesiapan militer melalui latihan yang dilaksanakan secara terbuka, Tehran ingin menegaskan bahwa mereka memiliki kapabilitas untuk mempertahankan wilayahnya jika terjadi eskalasi lebih lanjut di masa depan. Secara keseluruhan, latihan perang Iran di tengah bayang-bayang ancaman AS bukan semata-mata aksi militer rutin, melainkan bagian dari dinamika geopolitik yang kompleks, di mana latihan militer dan postur pertahanan menjadi instrumen yang digunakan kedua pihak dalam menjaga dan memperkuat posisi strategis mereka di kawasan.
