GARASI MEDIA – Pasar properti China terus menghadapi tekanan berat dan banyak analis memprediksi kondisi ini akan berlanjut hingga 2030. Setelah bertahun-tahun menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi, sektor Properti kini justru menjadi sumber risiko yang signifikan. Penurunan penjualan rumah, proyek mangkrak, serta krisis likuiditas pengembang besar mencerminkan lemahnya fundamental pasar yang sulit pulih dalam waktu singkat.
Salah satu penyebab utama keruntuhan ini adalah tingginya tingkat utang pengembang properti. Selama bertahun-tahun, ekspansi agresif dibiayai oleh pinjaman besar dengan asumsi permintaan akan terus meningkat. Namun, ketika pemerintah memperketat regulasi utang melalui kebijakan tiga garis merah, banyak perusahaan kehilangan akses pendanaan. Akibatnya, proyek terhenti dan kepercayaan konsumen merosot tajam.
Penurunan permintaan juga menjadi faktor kunci. Perubahan demografi, seperti melambatnya pertumbuhan penduduk dan menurunnya angka pernikahan, berdampak langsung pada kebutuhan perumahan. Selain itu, harga properti yang tinggi di masa lalu membuat banyak calon pembeli menunda pembelian. Ketidakpastian ekonomi dan kekhawatiran terhadap masa depan semakin menekan minat masyarakat untuk berinvestasi di sektor properti.
Dampak keruntuhan pasar properti tidak hanya dirasakan oleh pengembang dan pembeli rumah, tetapi juga merembet ke sektor lain. Industri konstruksi, bahan bangunan, perbankan, dan pemerintah daerah yang bergantung pada penjualan lahan ikut terkena imbas. Penurunan pendapatan daerah mempersempit ruang fiskal, sementara bank menghadapi risiko kredit macet yang meningkat.
Upaya pemerintah China untuk menstabilkan pasar terus dilakukan, mulai dari pelonggaran kebijakan pembiayaan hingga dukungan terhadap penyelesaian proyek mangkrak. Namun, langkah-langkah ini dinilai lebih bersifat penahan laju kejatuhan daripada mendorong pemulihan penuh. Fokus pemerintah kini bergeser dari ekspansi cepat ke stabilitas jangka panjang dan pengurangan risiko sistemik. Banyak analis memperkirakan pemulihan pasar properti akan berlangsung lambat dan tidak merata.
Kota-kota besar dengan permintaan kuat mungkin menunjukkan tanda-tanda stabilisasi lebih awal, sementara kota kecil dan menengah berpotensi mengalami tekanan lebih lama. Proses penyesuaian harga dan konsolidasi pengembang diperkirakan terus berlanjut hingga akhir dekade ini. Dalam jangka panjang, keruntuhan pasar properti China dipandang sebagai fase penyesuaian struktural.
Model pertumbuhan yang terlalu bergantung pada properti dianggap tidak lagi berkelanjutan. Pemerintah diharapkan mendorong diversifikasi ekonomi ke sektor teknologi, manufaktur bernilai tambah, dan konsumsi domestik. Hingga 2030, pasar properti China kemungkinan tetap berada dalam fase lemah dengan volatilitas tinggi. Meskipun krisis ini membawa tantangan besar, proses penyesuaian juga membuka peluang untuk membangun sektor properti yang lebih sehat, transparan, dan seimbang di masa depan.
