GARASI MEDIA – PT Petrosea Tbk (PTRO) menutup tahun 2025 dengan pencapaian yang sangat solid di sektor jasa pertambangan, menegaskan posisinya sebagai pemain utama dalam industri energi dan mineral nasional. Dalam pengumuman perkembangan Bisnis terbarunya di penghujung Desember 2025, emiten yang merupakan bagian dari grup konglomerasi Prajogo Pangestu ini melaporkan realisasi operasional yang signifikan, khususnya pada proyek strategis di Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah.
Melalui kerja sama dengan PT Pasir Bara Prima (PBP), Petrosea berhasil mencatatkan volume pengupasan lapisan penutup (overburden removal) sebesar lebih dari 7,2 juta bank cubic meter (BCM), sebuah progres yang menunjukkan kapasitas eksekusi perseroan yang mumpuni sejak dimulainya proyek tersebut pada Agustus 2024. Keberhasilan di lapangan ini tidak terlepas dari integrasi layanan pit-to-port yang menjadi keunggulan kompetitif perusahaan.
Petrosea tidak hanya berfokus pada kegiatan penambangan inti, tetapi juga secara aktif mengelola infrastruktur pendukung melalui entitas patungan, PT Lintas Kelola Bersama. Pembangunan jalan tambang (hauling road) sepanjang hampir 30 kilometer yang terbagi dalam enam segmen merupakan bukti nyata strategi diversifikasi layanan yang terintegrasi. Dengan model bisnis ini, perseroan mampu memastikan efisiensi logistik sekaligus memberikan nilai tambah bagi para mitra usaha.
Presiden Direktur Petrosea menekankan bahwa pencapaian volume produksi tersebut mencerminkan komitmen perusahaan terhadap operational excellence dan pengelolaan proyek yang berkelanjutan. Secara finansial, pengumuman perkembangan ini juga membawa angin segar bagi para investor. Sepanjang tahun 2025, Petrosea memproyeksikan lonjakan pendapatan yang ambisius, didorong oleh backlog kontrak yang terus bertumbuh dan kontribusi dari pasar luar negeri pasca-akuisisi strategis terhadap HBS Group dan Scan-Bilt.
Diversifikasi ke sektor mineral lain, seperti emas di Papua Nugini melalui HBS Group, serta proyek infrastruktur migas lepas pantai, memperkuat struktur pendapatan perusahaan agar tidak lagi bergantung sepenuhnya pada satu komoditas. Sinergi di dalam ekosistem grup Petrindo juga semakin memperkokoh posisi tawar Petrosea dalam memenangkan kontrak-kontrak besar berskala internasional. Di sisi teknologi, Petrosea terus memperkuat keunggulannya melalui digitalisasi operasional.
Penggunaan Remote Operations Center (ROC) yang memantau data secara real-time di seluruh lokasi tambang telah terbukti meningkatkan aspek keselamatan kerja dan produktivitas alat berat. Inovasi ini selaras dengan penghargaan Teknologi Jasa Industri dari Kementerian Perindustrian yang diraih perusahaan pada pertengahan 2025. Dengan memadukan teknologi terkini dan manajemen risiko yang ketat, Petrosea optimistis dapat menjaga tren pertumbuhan positif hingga tahun 2026 mendatang.
Sebagai penutup, perkembangan bisnis yang diumumkan di akhir tahun ini menunjukkan bahwa Petrosea berada di jalur yang tepat untuk transformasi menjadi perusahaan multidisiplin yang tangguh. Dengan total cadangan batu bara di bawah pengelolaan grup yang mencapai ratusan juta ton dan ekspansi layanan EPCI yang kian ekspansif, perusahaan siap menyongsong tantangan global dengan portofolio yang lebih terdiversifikasi. Ke depan, fokus pada efisiensi biaya, sinergi grup, dan penerapan standar ESG (Environmental, Social, and Governance) yang tinggi akan tetap menjadi prioritas utama guna menciptakan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan.
